tech blog, analysis, and comment
Social Media

Splice, Tools Kolaborasi untuk Para Musisi

Splice, Tools Kolaborasi untuk Para Musisi
Jika pengembang dan programmer punya Git untuk berkolaborasi proyek untuk software, maka musisi punya Splice untuk melakukan kolaborasi sebuah proyek musik

Jika pengembang dan programmer punya Git untuk berkolaborasi proyek untuk software, maka musisi punya Splice untuk melakukan kolaborasi sebuah proyek musik.

Menurut teman saya yang musisi, memproduksi musik itu bukan perkara mudah. Jika anda tidak menyimpan tiap perubahan, anda tidak akan bisa meng-undo proyek musik anda dan sulit memonitor pekerjaan para kontributor. Melalui tools anyar ini, Splice ingin mengubah alur kerja para musisi.

Startup terbaru dari Steve Martocci yang juga pendiri GroupMe ini baru saja meluncurkan Splice versi private Beta. Splice memungkinkan musisi melakukan auto-backup tiap update sebuah lagu, dan berbagi lini masa dan komentar ke semua tim yang tergabung.

Ide awal berdirinya Splice datang melalui percakapan di sebuah konser. Kala itu Martocci sedang berbincang-bincang dengan temannya Jon Gutwillig, seorang gitaris dari band bernama The Disco Biscuits. Waktu itu, Gutwillig baru saja belajar programming. “Kau punya tools keren untuk membuat software. tapi kenapa tidak dibuat untuk industri musik?”, kata Gutwillig. Perkataan Gutwillig tersebut membuat Martocci berpikir.

Splice belum terbuka untuk umum selama beberapa bulan ini, tapi saat ini Splice mengizinkan para musisi untuk mendaftar dan mencicipi versi private betanya.

Kurang lebih beginilah cara kerja Splice dari mulai menulis lagu hingga menawarkannya ke penjuru dunia. Musisi mengunduh software Splice client. Saat ini Splice hanya mendukung Ableton, sebuah piranti lunak untuk produksi musik. Rencananya Splice juga akan mendukung Logic, Pro Tools dan Reason. Splice membuat folder pada komputer sang musisi. Ketika sebuah track disimpan ke folder tersebut, akan secara otomatis tersimpan juga di cloud (server).

Track yang telah disimpan ini bersama dengan detail informasi mengenai track apa saja yang berada di file tersebut akan ditambahkan kepada linimasa pengguna Splice. Jika terjadi kesalahan, tim yang tergabung dalam proyek musik tersebut dapat menggunakan simpanan sebelumnya. Untuk berbagi proyek dengan kontributor lainnya, sang kreator proyek cukup menambahkan email para kontributor di Splice dan mereka langsung mendapatkan akses ke semua file dan linimasa.

Ketika sebuah lagu telah siap diluncurkan, pengguna cukup mengklik sebuah tombol untuk mengubahnya menjadi format seperti MP3 dan membukanya agar bisa didengar oleh semua orang melalui sebuah player yang oleh Splice diberi nama DNA Player.

DNA Player

Jika anda seorang musisi, anda harus mencoba tools keren ini.

AreaTeknologi.com