tech blog, analysis, and comment
Innovation

Aplikasi Teknologi Transportasi untuk Ibu Pertiwi

Aplikasi Teknologi Transportasi untuk Ibu Pertiwi
Indonesia membutuhkan transportasi yang lebih efisien mengingat kondisi geografisnya.

Semenjak merdeka sampai tahun 1980, perkembangan daerah di Indonesia amat lamban. Kendala utamanya adalah lokasi yang terpisah oleh kondisi geografis.

Untuk sekarang mungkin masih dijangkau oleh pesawat komersil angkut massal, penerbangan perintis, dan kapal laut, namun pertanyaanya sampai sejauh mana efisiensinya untuk bisa mengangkut barang dan manusia secara murah dan cepat hingga sampai tujuan?

Belum lagi jika terjadi bencana alam dimana bantuan medis dan logistik sampai tujuan dengan cepat dan massal.
Dari pengamatan Areateknologi, ada 2 jenis alat transportasi yang mungkin bisa mengatasi kendala-kendala tersebut.
Untuk transportasi antar pulau yang cepat dan efisien, mungkin yang cocok adalah Ground Effect Vehicle. Mungkin banyak yang bertanya-tanya apa itu Ground Effect Vehicle karena teknologi ini mungkin belum sepopuler pesawat, mobil, kereta atau pun kapal laut.

Ground Effect Vehicle adalah kendaraan yang memanfaatkan arus udara saat dilewati bentuk aerofoil sayap. Saat udara melewati aerofoil sayap, tekanan udara pada sayap bagian bawah lebih besar dibandingkan dengan tekanan udara pada sayap atas, sehingga menyebabkan efek gaya angkat pada sayap. Semakin lebar sayap semakin efisien tenaga yang dikeluarkan.

Kendaraan ini tidak terbang tinggi seperti layaknya pesawat, namun hanya terangkat beberapa kaki saja dari permukaan tanah ataupun air. Pada Ground Effect Vehicle produk Uni Soviet yang bernama LUN bisa mencapai 300 knot atau sekitar 560 km/jam dengan ketinggian sekitar 3 meter di atas permukaan laut dan mampu mengangkut beban seberat 500 ton dengan jarak terbang sejauh 2000 km, sayangnya GEV (Ground Effect Vehicle) milik soviet digunakan untuk kepentingan militer. Andaikan digunakan untuk sipil di Indonesia, pulau-pulau terpencil pasti mudah terjangkau dan pertumbuhan penduduk lebih merata.

Alat transportasi kedua yang cocok di gunakan di Indonesia adalah Hybrid ESTOLAS (European Commision’s Extremely Short Take Off and Landing On any Surface). Sebuah kendaraan yang merupakan kombinasi dari pesawat, helicopter, hovercraft dan airship. Daya angkut ESTOLAS variatif tergantung jenisnya, mulai dari dibawah 3 ton sampai dengan 400 ton.

Kelebihan kendaraan ini adalah mampu take off dan landing dengan jarak antara 75 sampai dengan 175 meter (tergantung varian).

Kendaraan ini sangat cocok untuk didaerah Papua yang kondisi geografisnya bergunung-gunung dan juga cocok untuk evakuasi maupun suplai logistik dan bantuan untuk daerah bencana.

Bayangkan jika kedua alat transportasi ini beroperasi di pelabuhan-pelabuhan Indonesia, sudah bisa dipastikan roda perekonomian di tiap pulau terpencil akan bergerak maju.

Di Indonesia memang sudah ada pengembangan untuk kendaran GEV (Ground Effect Vehicle) yang dilaksanakan oleh Puspitek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) dan LAGG (Laboratorium Aero Gasdinamika dan Getaran) di Puspitek Serpong. Sayangnya sampai saat ini belum ada perkembangannya, apakah akan digunakan untuk komersil atau militer.

Andaikan kedua alat ini benar-benar ada di Indonesia, produsen obat anti mabok akan kebingungan mendefinisikan jenis maboknya, karena ESTOLAS adalah alat transportasi udara kombinasi.

← Berita Berikutnya

Berita Sebelumnya →

AreaTeknologi.com