tech blog, analysis, and comment
Innovation

U.S. Navy Gunakan Senjata non Amunisi

U.S. Navy Gunakan Senjata non Amunisi
Senjata laser kini bukan lagi sebuah khayalan dalam film-film fiksi ilmiah. Karena pada musim panas tahun ini, angkatan laut Amerika Serikat, U.S. Navy, akan melengkapi armada kapal tempurnya dengan senjata laser.

Senjata laser kini bukan lagi sebuah khayalan dalam film-film fiksi ilmiah. Karena pada musim panas tahun ini, angkatan laut Amerika Serikat, U.S. Navy, akan melengkapi armada kapal tempurnya dengan senjata laser.

Selain laser, pada tahun 2016 mendatang, armada tempur U.S. Navy juga akan dilengkapi dengan Electromagnetic Rail Gun, atau senjata berpelontar elektromagnetik.

Wujud senjata laser milik angkatan bersenjata Amerika Serikat ini lebih mirip dengan kanon modern, dan akan ditanamkan pada armada kapal USS Ponce yang berpangkalan di Timur Tengah.

Tidak seperti dalam science fiction, cahaya laser pada dasarnya adalah cahaya infra merah dengan intensitas energi yang mampu membakar drone dan kapal-kapal kecil yang mengancam angkatan bersenjata Amerika di teluk Persia.

Sedangkan untuk menjatuhkan target yang lebih besar, U.S. Navy memilih electromagnetic rail guns. U.S. Navy lebih memilih kedua senjata ini karena jauh lebih murah.

Tidak seperti senjata berbasis amunisi, laser tidak pernah kehabisan amunisi dan jauh lebih murah dari pada senjata konvensional.

Pada penggunaan electromagnetic rail gun juga demikian, karena pengoperasiannya hanya membutuhkan listrik dan proyektil kecil yang akan di lontarkan melalui senjata tersebut.

Cara penggunaan electromagnetic rail gun pun cukup sederhana. Pengguna tinggal meletakkan proyektil pada konduktor rel paralel, kemudian dengan memanfaatkan muatan listrik, proyektil di lontarkan melalui rel tersebut menuju target dengan kecepatan 6 sampai dengan 7 kali kecepatan suara.

Dengan proyektil yang dilontarkan seberat 7 Pound atau kurang lebih 3 Kg, mampu merusak target dengan kerusakan cukup parah.

Dibandingkan dengan missil milik angkatan laut Amerika Serikat seharga 1 juta US dollar per-unitnya, electromagnetic rail gun jauh lebih murah.

Namun demikian, menurut Associated Press, senjata yang futuristik ini ada kekurangannya. Seperti senjata laser yang tidak akan efektif penggunaanya saat kondisi udara sedang berdebu, ber-awan/kabut, dan hujan.

Penggunaan electromagnetic rail gun memang murah karena pendorong proyektil adalah listrik, namun demikian agar proyektil bisa terlontar dengan kecepatan 7 kali kecepatan suara, dibutuhkan sumber energi listrik besar.

Untuk itu, U.S. Navy sedang membangun sebuah kapal bernama USS Zumwalt di galangan kapal yang terletak di negara bagian Maine. Kapal ini ditengarai bisa menghasilkan energi listrik sebesar 78 megawatt, dimana energi listrik ini bisa menghidupkan listrik sebuah kota dengan ukuran sedang.

Menurut pejabat yang terkait dengan proyek ini, mengatakan bahwa, kelemahan-kelemahan pada senjata futuristik ini tidak menghentikan U.S. Navy mengembangkannya. Bahkan mereka berharap agar senjata laser kedepannya akan mampu merusak target yang lebih besar seperti kapal perang musuh.

Mereka juga mengatakan bahwa, selain kedua senjata ini murah, keuntungan lain yang didapat adalah tidak akan berdampak pada performa angkatan laut jika alokasi dana pertahanan diturunkan oleh pemerintah federal.

← Berita Berikutnya

Berita Sebelumnya →

AreaTeknologi.com